Pengumpan:
Tulisan
Komentar

birthday

kamar itu gelap.
kamar yang sesungguhnya sangat berantakan itu, terlihat rapi dan tenang. menyatu dalam gelap.
hanya ada satu sumber cahaya disana. sebuah lilin yang baru saja dia nyalakan beberapa menit yang lalu.
dia menatap lilin itu untuk beberapa lama.
pandangan kosong.

semuanya hening. tak berucap.
detak jantung pun memelankan pacu nya. berusaha sehening mungkin.
hanya terdengar alunan nafas nya yg lirih dan bunyi jendela kamar yg sesekali bergetar karena tiupan angin yg kencang di luar.
seperti tak ada tanda2 kehidupan di ruangan ini.
bahkan dia seperti mati. membisu.

entah apa yang ia pikirkan.
memang ia terbiasa sendiri. terbiasa diam.
namun hari ini terasa berbeda.

setelah puas memandang lilin orange itu, dia tersenyum.
seperti telah menemukan jawaban setelah lama berpikir dalam.
namun tak ada raut kejujuran di senyum itu.
dia pun menyadari nya.
tak ada jawaban yang ia temukan.
hanya kebingungan yang semakin berat.

ia menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
sesaat ia berharap semua beban ini menghilang seperti asap yang menghilang dan berputar di hadapannya.
ia berharap semua beban ini lenyap bertepatan dengan dering alarm pergantian hari ini.
ia berharap hidup yang baru dimulai pagi ini.
tapi tampaknya tidak.

“aku sudah terbiasa”
meyakinkan dirinya. sebuah senyum tergurat dan air mata memenuhi kelopak matanya. hampir terjatuh.

hari ini ulang tahun nya yang ke-17. yang hanya ada satu hari dalam hidupnya.
tapi semua hanya tau itu hari Minggu.
tak ada yang ingat. tak ada yang tau.
hari Minggu yang akan hanya ada satu untuknya.

“selamat ulang tahun”

ia meniup lilin untuk dirinya.
membuat semuanya gelap. membuat ia melebur dalam gelap.
hilang.

.nu.
24feb09.11:03pm.

Mom

bertahun-tahun aku menunggu perasaan ini datang.
aku habiskan milyaran hari masa lalu dengan keraguan.
kuingin kau berkahi. kan kucari surga di jejak-jejak langkahmu.

kau benahi hidupku tanpa kutau.
rapikan serpihan-serpihan hatiku seperti saat kau menata kamarku yang selalu berantakan.
kau tata hatiku seakan kau memilikinya sendiri. kau mengenalku, lebih dari yang aku tau.

Sempat ku remehkan tulusnya kamu dalam tiap marahmu.
sempat terhempas aku kedalam kebodohan dan berpikir membenci kata-katamu yang mengekangku.
aku merasa terbelenggu.
belenggu yang membuat ku lupa betapa hangat pelukmu.
melebihi hangat tubuh wanita yang kucumbu.
melebihi hangat hati wanita yang ku cinta.

aku kembali ke masa itu.
merasakan tiap usap di dahiku saat kau membuka mimpiku.
mencoba mengingat saat kau menunggu aku membuka mata.
menenangkan tiap tangisku. dan selalu memamerkan tawaku ke teman-temanmu.

akhirnya aku mengerti..
kau bukan belenggu.
kau tak rela melepaskan cintamu.
kau tak rela melepas ku.

kuingat saat pertama kali kumampu berkata-kata.
mengepalkan udara dalam dada, dan melembutkan gerakan bibir..
hembuskan..
“mama..”

dan kini..
sebelum aku dewasa..
aku hembuskan..
“aku sayang kamu, ma..”

.nu.
2Feb09. 3:20am.

Surat Berjudul Si Marun

sebuah kumpulan emosi terhempas di wajahku..
mataku menyapu tiap bekas air mata di lembar tipis surat ini..

Kedua mataku mencoba terbuka. Tapi terasa berat karna digelayuti oleh air mata. Air mata yg belum habis mengalir,sejak siang itu. Aku menghirup udara dalam dalam. Mencoba meresapi setiap buih kenyataan. Kenyataan yg kini membuatku hilang.

Ya,aku melepasnya. Membiarkannya tertawa disana bersama sejuta kebahagiaannya. Kebahagiaan yg dulu tidak pernah singgah di hidup nya. Kini membalut sluruh dirinya. Ya,mereka adalah ladang kebahagiaannya. Sedangkan aku ? Aku hanya tumpukan beban yg memeluknya erat.

Aku sangat menyayanginya. Dia tau itu dengan nyata ! Karna aku sangat menyayanginya,aku melepaskannya. Sungguh,ini telah menghapus warnaku. Merahku mulai pudar berganti marun.
Hmmm..
Tak apa.
Marun pun tak bgitu buruk ! Hanya aku blm terbiasa dengan warna baruku. Mungkin nanti..
Aku tidak ingin memaksakan. Tapi aku berharap,dia dapat merasakan tangisku. Merasakan adaku. Merasakan deraku. Merasakan gelisahku. Merasakan detakku. Merasakan jejakku. Merasakan egoku. Merasakan lelahku. Merasakan mimpiku. Merasakan aku.

Kali ini,banyak doa yg aku panjatkan. Apakah ia akan mendengarnya ? Aku membutuhkan dukungan itu. Bisikkanlah. Bicaralah. Kali ini aku jatuh. Dapatkah ia dengarkan teriakku ?? Relakah ia menjulurkan tangannya padaku ? Sudikah ia menjadi bagian diriku ??

Hmm.. Kalau doaku bisa terkabul,aku ingin hatiku dicabut. Agar tidak perlu merasakannya lagi,sesuatu yg basah,pekat,dan asin.

Aku terlalu lelah untuk berjalan. Namun,masih mampu merangkak. Hanya saja,Merangkak membuat lutut dan kdua telapak tanganku terkoyak. Apa aku harus diam ditempat ?
Lagipula,untuk apa aku maju. Toh tidak ada lagi yg aku kejar diujung sana ! Tidak ada lagi alasan yg tepat.
Ya,lebih baik diam saja disini. Merapat disudut ruangan. Dan menangis sekeras kerasnya.. Larut bersama cairan itu.

Terimakasih untuk warna baruku. Si marun. Panggil aku bgitu. Merah tidak. Hitam juga tidak.

untuk hati yang menulis surat ini.. untuk mata yang menangisi aku.. untuk dia yang tak tau aku pun pudar..

maaf..

.nu.
dari surat yang ia baca.
dari seseorang yang menyayanginya.
yang melepas belenggu genggaman dan kini menari bersamanya.
:)

.nu.

2feb09.11:59pm.

Namaku Dosa

perkenalkan, aku Dosa.
aku ingin bercerita tentang apa yg aku jalani.

aku lelah.
lelah untuk selalu hadir dalam hidup orang banyak.
selalu tercipta karena mereka.
Tidak kah mereka pernah berpikir, betapa lelahnya untuk memperbanyak diri milyaran kali dalam sehari?

dan yang lebih menyebalkan, aku selalu dijauhi.
aku dinistakan.
aku selalu menjadi sumber kesalahan.
lambang kesesatan.

tak pernah aku merasa dibanggakan. mereka berdoa setiap malam agar Tuhan membakarku.
agar aku tak pernah ada.

Hey!

aku juga tak pernah berharap aku ada!
kalian yang melahirkanku. dan kini aku disia-siakan.

ini semua bukan mau ku.
kalau aku bisa independen seperti mereka, aku ingin berbeda.
aku bosan mengikuti kemana pun mereka pergi dan selalu memperbanyak diriku, beriringan dengan detik-detik.
cukup iblis saja yang menemaniku.
dan sesungguhnya dia benar-benar sahabat yang baik untukku.
tapi tidak untuk kalian.

dan sekarang aku mohon..
hilangkan beban ku.
jangan memaksaku bertambah lagi milyaran kali dalam tiap detikmu.
jangan paksa aku menjadi beban untuk kalian.
jangan paksa aku membuat kalian menangisi masa lalu. aku tidak suka kalian menangis.

kumohon..

jangan sampai aku, membuat kalian menderita di akhir cerita..

25jan09. 6:40pm.
.nu.

Sajadah Berdebu

sering kudengar dia menangis. sulit kulihat dengan jelas karena aku terlipat di sudut ruangan.
aku pun tak tau mengapa dia menangis. aku tak cukup mengerti tentang hati.
hati terlalu rumit untuk ku.
tak ada teori pasti. tak ada logika.

namun, tampaknya dia sangat mengerti tentang hati.
dia menangis. dan kadang dia marah dan tertawa.
dia benar-benar menikmati dipermainkan hati.

aku ingin mendiamkan tangisnya.
namun aku hanya bisa menunggu. terlipat di sudut ruangan. dan kini aku mulai berdebu.
terlalu lama menunggu.

hey! cepatlah kemari
sunyi. dia masih menangis.

hey, rapuh! aku tau jalan yang bisa menenangkanmu. kemarilah!

dia terdiam.
memandang kosong sesaat. lalu menoleh ke arah ku.
tatapannya menceritakan hari-hari yang ia lewati.
dia terlalu lelah menempuh perjalanan tanpa tujuan beserta milyaran kesalahannya, dan kini dia berharap bisa pulang.

aku tersenyum.
:)

kau tak benar-benar medengarku. tapi percayalah aku. kubawa kau pulang

dia berdiri. melangkah gontai menyucikan diri dalam tiap langkahnya.
meninggalkan kesedihan-kesedihannya untuk sesaat.
dia akan segera menukarkannya dengan ketenangan.
dia akan pulang.

dia menghampiriku. membasuhku. mengelupaskan semua debu.
dan akhirnya kami bertatapan. aku melihat matanya yang indah. mata sembab terindah yang pernah kulihat.
sesaat dia menghela nafas. meyakinkan dirinya untuk pulang.
dan aku tau, dia siap.

tinggalkan sesaat dirimu dan duniamu. kutunjukkan kiblatmu. kubawa kau pulang.

24jan09. 2:35am.

.nu.

Husein Bercerita, Dengarkan

saat langit penuh oleh warna-warni kembang api.
dia menatap dari tanah gersang. berdiri diantara puing-puing sisa ledakan kemarin lusa.
usianya belum genap 6 tahun. tapi ‘kematian’ sudah menjadi kata yang ia tahu setelah mengahapal ‘mama’.

Husein muda berdiri memunggungi dunia yang ia kenal, dan menatap jauh menyeberang lautan.
‘apa ada kehidupan disana?’ pikirnya.
langit kelap-kelip bercahaya, meski langit tengah hitam pekat.

Ia tak tahu jika hari itu 31 Desember. New Year Eve.
kalau pun tau, dia tak akan peduli.

31 Desember tak akan membuat dia tersenyum.

31 Desember tak akan membuat adik nya berhenti menangis karena luka sisa penyerangan kemarin lusa.

31 Desember tak akan mengembalikan ibunya yang terbaring tanpa nyawa.

Ia hanya membayangkan perasaan yang tak pernah ia tahu sejak lahir. perasaan yang tak pernah bisa diajarkan ibu nya, karena memang tak terasa di sana.

hidup yang damai.
dan bebas tertawa.

jika ia menyadari, ia akan memilih untuk menikmati konser musik akhir tahun di hotel; BBQ-an bersama keluarga; dinner bersama teman-teman; atau sekedar menyaksikan Televisi, tanpa berita tentang Tepi Barat, Gaza dan bom bunuh diri. Dibanding berdiri di antara puing-puing bangunan, yang sminggu lalu masih dia sebut ‘rumah’.

Tangisan husein tak kan terdengar meski ia meraung. dunia terlalu sibuk meniup terompet malam ini.

ps:

dengar tangisan husein diantara “3.. 2.. 1.. teeeeeeeet! HAPPY NEW YEAR!”

.nu.

31Des08-17:45

biarlah berbeda hingga nanti

dia tak seperti aku. dan tak akan pernah seperti aku.

janganlah kita bersatu.

itu akan hancurkanmu. dan aku.

aku mungkin hanya akan tercemar, sedangkan kau akan kehilangan kemurnianmu.

biarlah kita berbeda.

menghidupi hidup dengan cara yang berbeda, ke arah yang berbeda, menatap bintang yang berbeda di saat malam.

namun sesekali ingatlah aku disaat kau menapaki hidup, disaat kau menulisi diary mu dengan keseharianmu, disaat kau berdoa untuk orang yang kau kasihi.

karena aku ingat kamu di tiap langkahku.

mengingatkan aku untuk tidak berhenti mencari keajaiban yang seperti katamu, bukan untukmu, melainkan untukku sendiri.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.